Hitung jadwal sholat (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya) berdasarkan koordinat lokasi dan tanggal. Metode Kemenag RI / MUI.
Waktu sholat lima waktu ditetapkan berdasarkan posisi matahari relatif terhadap lokasi pengamat di bumi. Kalkulator ini menghitung jadwal sholat secara astronomis menggunakan koordinat GPS (latitude/longitude) lokasi Anda, sehingga hasilnya akurat untuk setiap titik di seluruh Indonesia — bukan hanya kota besar. Metode hisab yang digunakan mengacu pada standar Kemenag RI: sudut Subuh 20° dan Isya 18°, yang telah diverifikasi dan ditetapkan sebagai acuan nasional oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kelima waktu sholat wajib ditentukan oleh posisi matahari: Subuh dimulai saat fajar shadiq (astronomical twilight) ketika cahaya matahari mulai menerangi ufuk sebelum terbit. Zuhur masuk saat matahari melewati titik tertinggi (meridian transit) dan mulai condong ke barat. Ashar dimulai ketika bayangan benda sama panjang dengan tingginya (Mazhab Syafi'i) atau dua kali panjang benda (Mazhab Hanafi). Maghrib masuk tepat saat matahari terbenam di ufuk barat. Isya dimulai saat mega merah (senja) di langit barat hilang sepenuhnya.
Di dunia Islam, ada berbagai metode hisab yang menghasilkan waktu Subuh dan Isya yang sedikit berbeda, karena metode ini berkaitan dengan interpretasi fikih tentang kapan "fajar" dan "mega merah" dianggap mulai/hilang. Perbedaan utama terletak pada sudut depresi matahari untuk Subuh dan Isya yang digunakan dalam kalkulasi astronomi. Kemenag RI (dan ISNA, ICNA untuk Amerika) menggunakan Subuh 20° dan Isya 18°. Muslim World League menggunakan 18° untuk keduanya. Egypt GCAM dan University of Islamic Sciences, Karachi menggunakan Fajr 19,5° dan Isya 17,5°.
Untuk Indonesia, standar Kemenag RI (Subuh 20°, Isya 18°) adalah yang paling relevan dan digunakan oleh Masjid Istiqlal, jadwal imsakiyah nasional, dan aplikasi resmi Kemenag. Perbedaan dengan metode lain umumnya hanya 5–15 menit. Selain sudut Subuh/Isya, ada parameter lain yang memengaruhi akurasi: ketinggian lokasi di atas permukaan laut (makin tinggi, Maghrib sedikit lebih lambat), koreksi ihtiyat (margin keamanan +2 menit yang umumnya ditambahkan), dan penggunaan waktu matahari rata-rata vs matahari hakiki.
| Waktu Sholat | Dasar Penentuan | Ciri Astronomis |
|---|---|---|
| Subuh | Fajar shadiq (fajar yang benar) | Matahari -20° di bawah ufuk (standar Kemenag) |
| Syuruq (terbit) | Batas akhir Subuh | Tepi atas matahari menyentuh ufuk timur |
| Zuhur | Istiwa (matahari di meridian) | Bayangan terpendek, + ihtiyat 2 menit |
| Ashar | Bayangan = tinggi benda + bayangan Zuhur | Sudut matahari turun dari meridian (Syafi'i) |
| Maghrib | Terbenam matahari | Tepi atas matahari hilang di ufuk barat |
| Isya | Hilangnya mega merah (syafaq ahmar) | Matahari -18° di bawah ufuk |
Kalkulator ini mendukung tiga cara memasukkan lokasi: (1) Deteksi otomatis via GPS browser — klik tombol "Gunakan Lokasi Saya" dan izinkan akses lokasi. Cara tercepat dan paling akurat. (2) Cari nama kota — ketik nama kota atau kecamatan, pilih dari daftar hasil pencarian. (3) Input manual koordinat — masukkan latitude dan longitude secara langsung, cocok untuk lokasi terpencil yang tidak ada di daftar kota. Setelah lokasi ditetapkan, pilih tanggal dan metode hisab yang diinginkan, dan jadwal sholat akan dikalkulasi secara instan.
Fitur tambahan kalkulator ini: jadwal sholat bisa diunduh atau disimpan untuk referensi. Kalkulator juga menampilkan waktu Syuruq (terbit matahari) yang penting untuk batas akhir sholat Subuh dan waktu Dhuha. Waktu yang ditampilkan adalah waktu setempat berdasarkan zona waktu otomatis dari koordinat — WIB (UTC+7) untuk Sumatera, Jawa, Kalimantan Barat/Tengah; WITA (UTC+8) untuk Kalimantan Timur/Selatan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT; WIT (UTC+9) untuk Maluku, Papua.
Indonesia membentang dari barat ke timur sejauh lebih dari 5.000 km, melintasi tiga zona waktu. Perbedaan waktu sholat antar kota di Indonesia bisa sangat signifikan. Jakarta (106,8°BT) dan Merauke Papua (140,4°BT) memiliki selisih bujur ~33,6°, yang berarti matahari terbit di Merauke sekitar 2 jam 14 menit lebih awal dari Jakarta. Sehingga Subuh di Merauke pukul 05.10 WIT berarti sekitar pukul 03.10 WIB — selisih besar yang sering membingungkan saat bepergian lintas pulau.
Selain bujur (garis timur-barat yang menentukan kapan matahari melewati meridian), lintang (garis utara-selatan) juga memengaruhi waktu sholat terutama di musim berbeda. Indonesia yang berada di sekitar khatulistiwa (lintang -11° hingga +6°) relatif stabil sepanjang tahun — perbedaan waktu Subuh antara solstice Juni dan Desember hanya sekitar 15–30 menit. Berbeda dengan negara beriklim 4 musim di lintang tinggi yang bisa memiliki waktu sholat sangat panjang di musim panas atau sangat pendek di musim dingin.
| Kota | Zona Waktu | Perbedaan vs Jakarta | Subuh (estimasi) |
|---|---|---|---|
| Banda Aceh | WIB (UTC+7) | ~30 menit lebih awal | ~05.00 WIB |
| Jakarta | WIB (UTC+7) | Acuan | ~04.30 WIB |
| Surabaya | WIB (UTC+7) | ~20 menit lebih awal | ~04.10 WIB |
| Makassar | WITA (UTC+8) | — | ~05.00 WITA |
| Jayapura | WIT (UTC+9) | — | ~05.10 WIT |
Dalam kondisi tertentu, Islam memudahkan pelaksanaan sholat melalui sholat jamak (menggabungkan dua waktu sholat) dan qashar (meringkas sholat 4 rakaat menjadi 2 rakaat). Sholat yang bisa dijamak: Zuhur-Ashar dan Maghrib-Isya. Sholat Subuh tidak bisa dijamak. Jamak taqdim berarti sholat Ashar dipercepat ke waktu Zuhur, atau Isya dipercepat ke waktu Maghrib. Jamak ta'khir berarti sebaliknya — sholat Zuhur ditunda ke waktu Ashar, atau Maghrib ditunda ke waktu Isya.
Alasan diperbolehkan jamak dan qashar: (1) Safar (perjalanan) — umumnya jarak ≥83 km (2 marhalah) dengan berbagai pendapat ulama. (2) Hujan lebat — untuk jamak di masjid. (3) Sakit — yang menyulitkan bersuci atau berpindah. (4) Kondisi darurat/force majeure lainnya. Sholat jamak dan qashar adalah rukhsah (keringanan) dari Allah — boleh diambil tapi tidak wajib. Kalkulator jadwal sholat di atas membantu perencanaan waktu ibadah saat bepergian.